Asuransi Usaha Ternak Sapi

Ternak sapi merupakan ternak unggulan dalam penyediaan daging untuk memenuhi kebutuhan daging dalam negeri. Sapi yang diternakkan oleh masyarakat di Bali adalah Sapi bali. Di Bali tidak diternakkan sapi jenis lain selain sapi bali, karena sapi bali merupakan sapi ras asli Indonesia dan plasma nutfah yang harus dijaga kelestariannya dan kemurnian rasnya.

Populasi sapi bali di Bali berdasarkan cacah jiwa ternak Provinsi Bali pada akhir tahun 2018 tercatat 526.159 ekor, tersebar di seluruh wilayah Bali, dipelihara oleh petani-peternak dalam skala kecil di dalam kelompoktani maupun petani perorangan. Sapi bali mempunyai banyak fungsi bagi petani-peternak di Bali, diantaranya sebagai produksi daging, sebagai tenaga kerja dan tabungan hidup. Perlindungan terhadap petani-peternak dari resiko kerugian, dilakukan Pemerintah melalui Asuransi Usaha Ternak Sapi (AUTS).

Asuransi usaha ternak sapi telah diatur dengan Undang-undang, yaitu Undang-undang Nomor 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani, dan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 40/Permentan/SR.230/7/2015 tentang Fasilitasi Asuransi Pertanian. Untuk sapi yang merupakan salah satu komoditas pertanian, asuransinya diatur dalam Keputusan Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Nomor : 03866/Kpts/PK.210/F/01/2018 tentang Pedoman Pelaksanaan Asuransi Usaha Ternak Sapi/Kerbau Tahun 2018.

Asuransi Usaha ternak sapi bertujuan untuk mengalihkan resiko kerugian usaha akibat sapi/kerbau yang mengalami kematiandan/atau kehilangan kepada pihak lain (asuransi) melalui skema pertanggungan asuransi, degan sasaran agar terlindunginya peternak sapi/kerbau dari kerugian usaha akibat kematian dan/atau kehilangan agar peternak dapat melanjutkan usahanya. Dengan demikian AUTS sangat bermanfaat terutama dalam memberikan ketentraman dan ketenangan sehingga peternak dapat memusatkan perhatian pada pengelolaan usaha dengan lebih baik. Pengalihan risiko dengan membayar premi yang relatif kecil peternak dapat memindahkan ketidak pastian risiko kerugian yang nilainya besar.

Semua sapi yang dipelihara oleh peternak bisa diasuransikan, baik yang dipelihara secara berkelompok maupun sapi milik pribadi peternak, yang penting peternak bersedia membayar premi dan menyetujui kewajiban dan hak yang ditetapkan dalam asuransi usaha ternak sapi.

Premi adalah sejumlah nilai uang yang dibayar oleh peternak / tertanggung sebagai syarat sahnya perjanjian asuransi dan memberikan hak kepadanya untuk menuntut ganti rugi bila dalam jangka waktu pertanggungan terjadi kematian atau kehilangan sapi. Besarnya premi yang harus dibayar oleh peternak tergantung dari harga sapi.

Dalam program UPSUS SIWAB (Upaya khusus Sapi Indukan Wajib Bunting) Pemerintah memberikan bantuan premi bagi petani-peternak yang mengasuransikan sapinya. Bantuan premi ini diatur dengan Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 18/Kpts/PK.240/B/12/2017 tentang Bantuan Premi Asuransi Usaha Ternak Sapi/Kerbau;

Untuk sapi dengan harga pertanggungannya Rp. 10.000.000,- (sepuluh juta rupiah) per ekor, maka preminya sebesar Rp. 200.000,- (dua ratus ribu rupiah) per tahun. 80% dari premi tersebut atau sebesar Rp. 160.000,- (seratus enam puluh ribu rupiah) per ekor per tahun, dibayar oleh pemerintah sebagai bantuan premi kepada peternak, dan peternak membayar premi swadaya sebesar 20%, berarti peternak membayar premi sebesar Rp. 40.000,- (empat puluh ribu rupiah) per ekor per tahun.  Jadi untuk seekor sapi yang harga pertanggungannya  10 juta rupiah, peternak membayar premi sebesar 40 ribu rupiah per tahun.

Jika dalam masa pertanggungan / setahun itu sapinya mati karena penyakit  atau hilang karena kecurian maka peternak mendapat ganti rugi sebesar harga pertanggungan yaitu Rp. 10.000.000,- (sepuluh juta rupiah). Jika sapi yang diasuransikan seharga Rp. 10 juta mengalami kecelakaan dan patah, lalu dijual dan laku hanya Rp. 2 juta, maka sisa nilai sebesar Rp. 8 juta dibayar oleh pihak pengelola asuransi, sehingga peternak tetap memperoleh Rp. 10 juta dari sapi yang patah itu.

Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi dalam mengasuransikan sapi adalah :

  1. Sapi dalam kondisi sehat, berumur minimal 1(satu) tahun, dan masih produktif.
  2. Sapi memiliki penanda/identitas yang jelas misalnya micro-chip, eartag atau lainnya.
  3. Foto sapi yang di-asuransi-kan,
  4. Surat keterangan sehat,
  5.  Nama dan identitas pemilik sapi,
  6. Surat keterangan dari kelompoktani (yang dipelihara secara berkelompok).

Untuk peternak yang mengasuransikan sapinya harus memenuhi persyaratan

  1. Melakukan usaha sapi pembibitan dan / atau pembiakan.
  2. Skala usaha kecil, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
  3. Bersedia membayar premi swadaya. Dalam AUTS peternak membayar premi sebesar 20% dari nilai premi.
  4. Bersedia memenuhi persyaratan dan ketentuan polis asuransi.

Klaim asuransi usaha ternak sapi dilakukan dengan cara menunjukkan dokumen berupa :

  1. Polis asuransi
  2. Nomor kuping atau eartag sapi yang mati,
  3. Surat keterangan kematian sapi dari dokter hewan
  4. dan Foto bangkai sapi yang mati.

Dokumen tersebut segera diserahkan kepada petugas di Bidang Peternakan Kabupaten / JASINDO (pengelola asuransi usaha ternak sapi) untuk segera di proses. Pencairan dana ganti rugi pada umumnya dalam waktu 14 hari kerja sejak penyerahan dokumen untuk klaim (Leest-Penyuluh Pertanian di Disnakkeswan Prov. Bali).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *