Babi Bali

Asal-usul babi bali.

Indonesia merupakan negara yang memiliki plasma nutfah babi terbesar di dunia karena memiliki lima dari delapan spesies babi, salah satunya adalah babi lokal bali. Babi bali dalam bahasa Bali disebut celeng dan anak babi disebut kucit. Babi bali yang terdapat di Pulau Bali merupakan babi bali yang berasal dari babi liar (Sus vittatus) dan banyak dijumpai di Bali bagian Timur (Kabupaten Karangasem). Tan Hok Seng, 1957 menyatakan bahwa babi yang ada di Bali merupakan peranakan dari babi liar setempat dengan Babi Tiongkok Selatan. Hasil persilangan ini yang sering disebut sebagai babi bali oleh masyarakat di Pulau Bali bagian Utara, Tengah, Barat dan Selatan.

Ukuran tubuh sedang, bentuk kepala kecil. Taring tidak melekat saat sudah menua. Tulang punggung tidak kuat sehingga sewaktu-waktu bagian perut menyentuh tanah jika status kondisi gemuk atau sedang bunting. Warnanya dominan hitam, berambut kasar terutama pada punggung, kaki dan moncong (Hartatik et al. 2014; Siagian 2014). Babi ini gesit dan pada babi betina umur bunting pertama kurang lebih empat bulan (Siagian 2014).

Babi merupakan  hewan  yang  memiliki  sifat  prolik  yaitu jumlah perkelahiran yang tinggi (10-14 ekor/kelahiran), serta jarak antara satu kelahirann dengan kelahiran berikutnya pendek (Sihombing, 2006). Lama bunting babi bali betina rata-rata 110±2.59 hari dan calving intervalnya 151.06±6,30 hari. Litter size babi bali 6.98±2.37 ekor.( Sumardani dan Ardika, 2016).

Siagian (2014) menyatakan bahwa babi Bali di Bali ada dua jenis yaitu babi bali yang berada di daerah Timur dan Utara dan babi bali yang berada di daerah Selatan dan Tengah. Babi Bali yang berada di daerah Timur memiliki karakteristik hitam dan berambut kasar, punggungnya melengkung tetapi bagian perutnya tidak menyentuh tanah, moncongnya sedikit lebih panjang. Babi Bali yang berada di daerah Utara, Selatan dan Tengah memiliki karakteristik punggung melengkung, bagian perut membesar dengan belang putih pada empat kakinya, moncong pendek, telinga meruncing, tinggi 54 cm, panjang 90 cm dan panjang ekor 20-25 cm (Hartatik 2013; Soewandi 2013; Hartatik et al. 2014; Siagian 2014).

Peranan babi bali dalam kehidupan masyarakat Bali Ternak babi mempunyai peranan penting dalam masyarakat Bali, yaitu sebagai sarana upacara keagamaan, sebagai penampung limbah dapur (tatakan banyu), sehingga limbah dapur dapat dimanfaatkan dan tidak mencemari lingkungan, sebagai tabungan hidup (celengan) dan penunjang pariwisata terutama wisata kuliner dengan beberapa ragam masakan babi yaitu babi guling, lawar, tum.

  • Babi bali sebagau sarana upacara keagamaan.

Babi bali sebagai sarana dalam berbagai upacara keagamaan (Hindu) dapat dilihat dalam Tabel B-1 sebagai berikut: Tabel B-1. Babi sebagai sarana upacara keagamaan di Bali (Hindu)

  • Babi sebagai penampung limbah dapur/tatakan banyu dan celengan

Babi mampu memanfaatkan sisa-sisa makanan atau limbah pertanian menjadi daging yang bermutu tinggi (Siagian,1999). Dalam pola pemeliharaan tradisional babi bali dipelihara secara umbaran, dengan pakan tradisional yang terdiri dari hijauan, limbah pertanian, limbah dapur berupa sisa makanan dan air cucian beras yang disebut banyu. Dari sinilah timbul istilah tatakan banyu. Dan pada umumnya pemeliharaan babi bali sebagai persiapan untuk keperluan hari raya atau upacara keagamaan, sehingga sering  disebut sebagai tabungan / celengan.

Sejalan dengan perkembangan teknologi dan ekonomi, Banyak peternak yang memelihara babi bali secara intensif dengan pakan komersial.

  • Babi bali sebagai penunjang pariwisata

Bali sangat terkenal dengan kuliner babi guling.  Masyarakat wisatawan mengidentikkan  babi guling dengan Bali. Babi guling di Bali biasa disebut be guling adalah masakan terbuat dari babi muda atau berat maksimal 20 kg, dibumbui dengan bumbu tradisional bali dipanggang dengan diputar-putar atau diguling-guling di atas api.

Babi guling pada awalnya untuk sesajen pada upacara adat dan keagamaan. Pada saat ini babi guling sudah memasyarakat dan menjadi hidangan yang banyak dijual di warung, rumah makan maupun restautant.Menurut penikmat babi guling, guling babi bali lebih disukai dari pada guling babi bali jenis lainnya. Demikian juga dengan kuliner lawar dan kuliner lainnya yang berbahan babi. (Leestyawati, Penyuluh Pertanian di Disnakkeswan Provinsi Bali).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *